Jumat, 05 Juni 2020

Ceritaku liburan ke kawah ijen, pengen liat Blue Fire tapi......

Sebelumnya, Thanks to Tribun Travel yg udah mau dengerin ceritaku waktu di Kawah Ijen, di editin juga tulisannya biar lebih berseni 😍https://travel.tribunnews.com/amp/2019/11/15/cerita-traveler-liburan-ke-kawah-ijen-wajib-datang-dini-hari-untuk-lihat-blue-fire

Fenomena Blue Fire menjadi salah satu fenomena langka di dunia.
Bagaimana tidak, blue fire hanya ada dua di dunia.
Blue fire ini bisa ditemukan di Islandia dan satu di Indonesia yakni di Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur.
Keberadaan blue fire inilah yang menjadi satu daya tarik wisata Kawah Ijen dikalangan wisatawan. 
Tak terkecuali traveler asal Karanganyar, Jawa Tengah, yang akrab dipanggil Nisa.
Melalui pesan WhatsApps kepada TribunTravel, Rabu(13/11/2019), Nisa berbagi cerita mengenai pengalamannya liburan ke Kawah Ijen.
Kawah Ijen ini terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso Jawa Timur.
Ada dua jalur yang bisa digunakan untuk sampai di Kawah Ijen yakni Banyuwangi dan Bondowoso.
Untuk rute Banyuwangi, jika dari arah Surabaya bisa melewati Jember, Situbondo dan Baluran.
"Kebetulan waktu itu, kita berangkat dari Surabaya naik travel, dan lanjut perjalanan ke Situbondo," kata Nisaa melalui fitur Voice Note aplikasi WhatsApps.
Dari Situbondo, perjalanan dilanjutkan melalui Bondowoso dan tiba di Paltuding.
Paltuding merupakan titik awal pendakian untuk menuju puncak Gunung Ijen.
Bagi traveler yang ingin menikmati blue fire, ada baiknya untuk sampai di Paltuding sekitar jam 01.00 WIB atau kurang.
Untuk sampai ke lokasi blue fire, traveler membutuhkan waktu sekitar 2 jam.
Perlu diketahui, blue fire akan semakin mengecil menjelang pukul 05.00 WIB.
"Sampai di Bondowoso kita sampai jam set 3 sampai jam 3, dan rumor-rumornya kalau udah di atas jam 02.00 baru sampai sana. Untuk melihat blue fire itu udah nggak kelihatan mbak, atau bener-bener udah nggak kelihatan sama sekali. Karna kan kita masih jalan buat ndaki gunungnya," kata Nisa.
Berhubung Nisa dan rombongan sampai pukul 03.00 WIB, maka perjalanan dilanjutkan ke Kawah Ijen.
Untuk sampai di Kawah Ijen ini membutuhkan waktu tempuh sekitar 2-2,5 jam.
"Kata masnya yang travel itu, kalau lancar pemula yang baru pertama kali ke situ (Kawah Ijen) bisa sampai 2,5 jam. Kalau yang bukan pemula bisa 1,5-2 jam," imbuh Nisa.
Dari titik awal sampai puncak Kawah Ijen terdapat empat pos yang harus dilalui dengan medan yang berbeda.
"Jadi di ijen ada empat pos, dari registrasi awal jalannya untuk ke pos 1 itu masih agak landai, tapi di situ bener-bener kalau malam, jangan menggunakan masker, karena di ketinggian segitu pakai masker akan kekurangan oksigen," kata Nisa.
Di pos 1, traveler bisa menemukan warung yang merupakan satu-satunya warung di Kawah Ijen.
"Nah sampai di pos 1 ada warung, satu-satunya warung di Ijen," kata Nisa.
Nisa menambahkan jika jarak antara pos 1 dan pos 2 sekitar 20 menit.
Kondisi pos 2 berbeda dengan pos 1 yang memiliki medan curam dan mulai naik.
"Pos 1 ke pos 2 curam, mulai naik. Itu biasanya yang sepuh-sepuh itu sudah tua itu mulai kerasa," kata Nisa.
Nisa menambahkan, "Pos 1 ke pos 2 jarang dibuat pemberhentian karena memang malam juga jadi jarang. Karna biasanya kalau ke ijen itu sekali naik turun."
Menurutnya, semakin naik ke pos atas medan yang harus dilalui juga semakin berat.
"Pos 2 ke pos 3 curam lagi, ada yang kemiringan 90 derajat. belok miring naik lagi. Apalagi padet banget karna posisi weekend. Setelah di pos 4 seinget saya udah nggak ada pohon-pohon lagi, adapun itu di sebelah kiri aja, di sebelah kanan itu jurang," jelas Nisa.
Setelah dari pos 4, traveler akan menemukan pertigaan, di mana jika mengambil jalur naik bisa sampai Kawah Ijen, dan jalur kiri ke bawah untuk sampai ke blue fire.
Karena Nisa dan rombongan datang terlambat, maka mereka memilih untuk naik ke atas dan melihat Kawah Ijen.
Untuk sampai di Kawah Ijen memerlukan waktu sekitar 15 menit dari pertigaan tadi.
"Pertigaan ke puncak sekitar 15 menit, karena bener-bener pasir kayak track Merapi, kita harus hati-hati. Karna sampai di pertigaan itu nggak ada pohon di kanan kiri," jelas Nisa.
Bagi traveler yang ingin berkunjung ke Kawah Ijen, ada tiket masuk yang harus dibayar yakni Rp 5 ribu untuk hari biasa dan Rp 7.500 untuk weekend.
"Menurut info yang saya dapat untuk tiket masuk weekend 7500 gituh. kalau untuk hari biasa itu 5 ribu. Itu untuk bulan Juni," 
Penulis: Ratna Widyawati
Editor: Gigih Prayitno
Sumber: Tribun Travel


Bonus foto-foto pas di Kawah Ijen 😍

Pos registrasi Kawah Ijen (Traveler/Nisa)
Jalur pendakian Kawah Ijen (Traveler/Nisa)


Oh iya aku juga punya instagram khusus upload foto travelingku, liat-liat yukk https://instagram.com/traveldiariesannisa

Rasanya jadi Mahasiswa Psikologi......

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata psikologi?
Yapp, sebagian besar orang pasti berpikiran "oh itu ilmu perbatinan ya" ,"ilmu yang bisa ngeramal orang ya" dan sejenisnya.. wajar kok orang berpendapat, yang paling penting adalah ketika kamu mendengar sesuatu yang masih asing atau belum terlalu paham tentang hal itu, kalian bisa cari-cari tau ya 😉

Eh, aku belum kenalan ya.. oke, kenalin namaku Annisa tapi kadang di panggil Nisa juga, nama paling terlalu populer di dunia wkwk terutama buat kaum hawa ya kan 😁
Cerita dulu sedikit ya sebelum aku bener-bener jadi mahasiswa psikologi, tapi maaf ada bagian yg lupa, aku ceritain seingetku yaa
Waktu SMP Kelas 2 mulai kerasa kalo aku suka dunia sosial, terutama berinteraksi dengan orang tanpa terlalu kenal dengan orang tersebut. Kalo aku di tempat baru, aku bisa ngajakin ngobrol orang lain duluan daripada orang lain yang ngajakin aku ngobrol duluan. Terus aku punya pikiran, kenapa seru ya ngobrol sama orang tapi gak perlu terlalu dekat dengan orang lain. Lama-lama aku suka dengerin orang curhat, dan waktu SMP kelas 2-3 aku sering dengerin temenku curhat kemudian karena belajar dari pengalaman, aku mulai tau struktur pertanyaan apa yg harus aku tanyain ke temenku kalo ada masalah.. aku tanya-tanya seputar hubungan orang yg curhat sama aku dengan orang tuanya, temannya, saudaranya, kakek/neneknya dan hubungan dengan antar manusia yg lain. Terus lama-lama jadi hafal arah permasalahan ini kira-kira bakal kemana, awalnya sepertinya darimana. Semua berdasarkan analisa, awalnya aku pikirin tanpa aku sampein dulu ke temenku yg curhat sama aku. Baru ketika aku tanya, aku coba arahin ke pertanyaan yg mendekati analisaku, tanpa judgement. Dan ternyataa..... pada bilang "eh kok tau sih nis? "lah iya nis kaya gitu" dan seterusnya. Lambat laun aku tertarik juga sama dunia organisasi, komunitas. Dari SMP kelas 2 itu aku diem termenung sambil mikir, apa ya kira-kira jurusan yg cocok buat aku kuliah besok. Sebagian besar temen-temenku bilang bahwa jangan cepet-cepet nentuin jurusan kuliah karena bakal di jalanin selama kuliah tanpa liat mata pelajaran yang lain kalo istilah anak sekolah. Akhirnya ku searching deh apa jurusan kuliah yg cocok sama peminatan di dunia sosial. Kemudian muncul lah kata "psikologi" yg akhirnya buat aku tertarik mempelajarinya

Gak kerasa waktu cepat berlalu, aku saat itu udah kelas 3 SMA. Sampe aku kelas 3 SMA, peminatan jurusan kuliahku tetep sama sewaktu aku SMP kelas 2, gak berubah sama sekali. Tapi karena kata orang tua nyoba peminatan lain, terus aku nyoba sosiologi. Udah itu aja sih, psikologi dan sosiologi. Gak keterima di PTN favoritku sempet buat aku hilang motivasi. Mau gak mau aku daftar kuliah di PTS dan ambil jurusan yg aku minati, yapp Psikologi..
Gak nyadar sih waktu itu aku daftar PTS yg jurusan psikologinya cukup bagus dan ternama, pengajar-pengajarnya lulusan dari PTN favoritku itu.. Alhamdulillah aku bersyukur, dan semester 2 motivasiku tumbuh lagi..

Selama ospek diwajibkan dateng jam 05.30, kalo enggak bakalan dapet hukuman. Responku pertama adalah, WHAAATTTTT??????? Aku sekolah aja berangkat dari rumah 06.45, sering ketinggalan upacara bendera, lah ini 05.30 cuyyyyy 😩
Sewaktu ospek dapet tugas buat lambang Psikologi yaitu Trisula, terus buat rangkuman tokoh-tokoh Psikologi, buat rangkuman permasalahan psikologis itu apa aja, dan yang lainnya.. yg lainnya lupa maksudnya xD oh iya waktu itu aku dapet nama kelompok tentang alat tes psikologi yg aku baru tau setelah kuliah, dulu pas ospek aku mikir, kok nama ini aneh bgt buatku..

Masuk semester 1, nyenengin banget sih, ngerasa bersyukur kuliah di jurusan yg sesuai sama peminatan, walaupun mungkin perguruan tingginya gak sesuai sama impianku.. tapi lambat laun aku mulai menerima.. di semester 1 udah pasti yang di pelajari di semua jurusan psikologi adalah Psikologi Umum.. itu gerbang menuju psikologi khusus, maksudnya psikologi dalam lingkup yg lebih detail seperti psikologi kepribadian, psikologi klinis, psikologi industri dan organisasi, psikologi pendidikan, dan yang lain-lainnya.. terus gak kerasa aku udah semester 4, aku mulai praktikum observasi dan wawancara, pertama kali praktikum dan cukup menyita pikiran tenaga dan waktu.. capek banget rasanya, 24 sks rasanya cuma mikirin 3 sks ini doang, praktikum OBI.. 😅 praktikum ini jadi gerbang juga buat praktikum-praktikum yang lain yg mempelajari alat tes psikologi, eksperimen, konseling dan yang lain-lainnya. Kalo aku pribadi paling suka belajar alat tes psikologi, nyenengin banget pokoknya hehe, ada banyak banget alat tes psikologi di dunia, di Indonesia sendiri pun juga udah banyak, sampai sekarang pun semakin banyak tapi ada yg di desain ulang juga karena semakin banyak kebutuhan manusia. Terus aku nyoba jadi asisten biro, Alhamdulillah keterima dari sekian puluh orang yg daftar. Banyak lowongan asisten yg lain, seperti asisten praktikum, asisten lab, dan asisten biro skripsi. Eh, tau-tau aku udah semester akhir, pertama kali yg aku tentuin dari skripsiku adalah tempat ambil data penelitian. Itu penting banget, mau apapun variabel yg diambil, kalo tempat/subjek data penelitian kesulitan, bisa agak tersendat nanti ketika udah pertengahan skripsi
19 April 2019.. Alhamdulillah aku unofficialy S.Psi dengan nilai A.. judul skrispiku "Psychological Well-Being pada KSR PMI Kota Surakarta dalam Menangani Bencana" aku jadi tau psikologi positif, sesuai juga sama peminatanku di bagian psikologi sosial..
Doain ya teman-teman, saat ini 2020 aku sedang menempuh semester akhir Magister Psikologi Profesi peminatan Klinis, semoga cita-citaku dari SMP jadi Psikolog bisa tercapai Aamiin..
FYI, kalo lulus S1 Psikologi bertitle S.Psi, itu masih dinamakan ilmuwan psikologi. Kalo mau jadi Psikolog harus ambil S2 Magister Psikologi Profesi.. begitu teman-teman..

Next, aku bakal ceritain gimana kuliah di S2 Magister Psikologi Profesi khususnya peminatan klinis yaa, moga-moga gak males nulisnya 😅

Makasih yaa yg udah mau baca blog ku, semoga bermanfaat 🥰

Btw, kalo ada yg mau tanya-tanya seputar jurusan psikologi boleh bangeeet, bisa DM ke instagramku https://instagram.com/annisamortafia 
Ditunggu ya teman-teman 🤗